Jika kamu ragu dalam suatu perkara, antara memaafkan atau memberi hukuman (membalas), maka dahulukanlah sisi pemaafan. Sebab, keliru dalam memaafkan lebih baik daripada keliru dalam memberi hukuman (membalas).
Jadikanlah kaidah ini sebagai salah satu prinsip hidupmu. Suka memaafkan termasuk akhlak yang terpuji, dan merupakan bagian dari kesempurnaan sifat.
Oleh sebab itu, Allah ‘Azza wa Jalla disifati dengan sifat ini, dan di antara nama-Nya adalah Al-‘Afuw (Maha Pemaaf). Dalam doa disebutkan: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Ahmad).
Allah Ta’ala juga memuji orang-orang yang memaafkan sesama manusia. Dia berfirman, “…Dan orang-orang yang memberi maaf bagi orang lain.” (QS. Ali Imran: 134). “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali Imran: 134).
Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan dalam ayat ini salah satu sifat penghuni surga, yaitu mereka suka memaafkan sesama manusia. Suka memaafkan merupakan sifat terpuji dan tanda kesempurnaan dalam diri manusia.
Allah Ta‘ala juga berfirman:“Dan memaafkan itu lebih dekat kepada ketakwaan.” (QS. Al-Baqarah: 237) Memaafkan lebih dekat kepada ketakwaan dibandingkan tidak memaafkan.
Allah juga berfirman, “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22). Ayat ini menunjukkan bahwa sikap memaafkan dan berlapang dada termasuk sebab turunnya ampunan Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sifat pemaaf, melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim).
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya bersungguh-sungguh menanamkan sifat ini, memaafkan orang yang menzaliminya, dan memaafkan orang yang berbuat salah kepadanya, serta menghiasi dirinya dengan sifat suka memaafkan.
Oleh sebab itu, jadikanlah ini sebagai salah satu prinsip hidupmu. Jika kamu ragu dalam hal apa pun, antara memberi maaf atau membalas perbuatan buruk orang lain, maka dahulukanlah sisi pemberian maaf. Karena salah dalam memberi maaf lebih baik daripada salah dalam membalas perbuatan buruk orang lain.
Dalam sisi kehidupan apa saja. Jika kamu ragu antara memberi maaf atau membalas, maka dahulukanlah sisi pemberian maaf. Jadikanlah ini sebagai salah satu prinsip hidupmu. Karena meskipun kamu salah dalam memberi maaf, itu tetap lebih baik daripada kamu salah dalam membalas kesalahan orang lain. Selain itu, suka memaafkan merupakan sifat kesempurnaan dan kemuliaan. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala memiliki sifat ini, Dia adalah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.
=====
إذَا تَرَدَّدْتَ فِي أَيِّ أَمْرٍ بَيْنَ الْعَفْوِ وَالْعُقُوبَةِ فَغَلِّبْ جَانِبَ الْعَفْوِ فَإِنَّ الْخَطَأَ فِي الْعَفْوِ خَيْرٌ مِنَ الْخَطَأِ فِي الْعُقُوبَةِ
اجْعَلْ هَذِهِ الْقَاعِدَةَ مِنْ مَبَادِئِكَ فِي الْحَيَاةِ الْعَفْوُ مِنَ الخِصَالِ الْحَمِيدَةِ وَمِنْ صِفَاتِ الْكَمَالِ
وَلِذَلِكَ يُوصَفُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا وَمِنْ أَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ الْعَفْوُ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
وَاللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَى الْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ فَقَالَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ الَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ
فَذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَوْصَافِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنَّهُمْ الْعَافُوْنَ عَنِ النَّاسِ فَالْعَفْوُ صِفَةُ مَدْحٍ وَكَمَالٍ فِي الْإِنْسَانِ
وَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى وَأَنْ تَعْفُوْا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى الْعَفْوُ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى مِنْ عَدَمِ الْعَفْوِ
وَقَالَ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ دَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ الْعَفْوَ وَالصَّفْحَ مِنْ أَسْبَابِ الْمَغْفِرَةِ
وَيَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
فَيَنْبَغِي أَنْ يَحْرِصَ الْمُسْلِمُ عَلَى تَحْقِيْقِ هَذِهِ الْخَصْلَةِ وَأَنْ يَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَهُ وَيَعْفُوَ عَمَّنْ أَخْطَأَ عَلَيْهِ وَيَتَّصِفَ بِصِفَةِ الْعَفْوِ
وَلِذَلِكَ اجْعَلْ هَذَا الْمَبْدَأَ مِنْ مَبَادِئِكَ فِي الْحَيَاةِ إِذَا تَرَدَّدْتَ فِي أَيِّ أَمْرٍ بَيْنَ الْعَفْوِ وَالْعُقُوبَةِ فَغَلِّبْ جَانِبَ الْعَفْوِ لِأَنَّ الْخَطَأَ فِي الْعَفْوِ خَيْرٌ مِنَ الْخَطَأِ فِي الْعُقُوبَةِ
فِي أَيِّ مَجَالٍ مِنْ مَجَالَاتِ الْحَيَاةِ إِذَا تَرَدَّدْتَ بَيْنَ الْعَفْوِ وَالْعُقُوبَةِ غَلِّبْ جَانِبَ الْعَفْوِ اجْعَلْ هَذَا مَبْدَأً لَكَ فِي الْحَيَاةِ لِأَنَّكَ حَتَّى إِنْ أَخْطَأْتَ فِي الْعَفْوِ هُوَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تُخْطِئَ فِي الْعُقُوبَةِ وَلِأَنَّ الْعَفْوَ صِفَةُ كَمَالٍ وَمَدْحٍ وَلِذَلِكَ اتَّصَفَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا فَهُوَ عَزَّ وَجَلَّ الْعَفُوُّ الْغَفُورُ